Friday, 23 June 2017

lebaran, mudik, dan profesi setelah menikah..

Lebaran tahun ini merupakan tahun kelima saya berstatus sebagai Nyonya Akhbar, setelah saya ingat-ingat, selama 5 tahun belakangan, sepertinya profesi saya dari tahun ke tahun tidaklah sama. well, mari kita mengingatnya, biarkan saya bercerita.. :D

1. Lebaran tahun 2012
Lebaran tahun 2012 ini sebut saja saya masih penganten baru. saat itu saya masih bekerja sebagai asisten dosen di Malang Kota. saya sempat merasakan mudik ke kota halaman suami di Jakarta Selatan selama semingguan. yap, karena masih manten baru, jadi ya mudiknya cuma berdua aja. di tahun ini lebaran badan serasa capek banget. hari pertama lebaran di rumah ibu, hari kedua di rumah mbah uti-nya suami di ujung Tulungagung, lalu lebaran ketiga ke Jakarta. edyaan..
Saya sempat merasakan gimana sesak2annya kereta dan bis di Jawa Timur, hehe..

2. Lebaran tahun 2013
Saya sempat vakum dari aktivitas kampus dan rutinitas laboratorium sebagai asisten dosen karena saya mendapat amanah dan tugas baru. menjadi ibu.. :D lebaran tahun 2013 Hyu masih usia 3 bulan yang baru bisa tengkurep dan bakal nangis kalo kelamaan tengkurep karena ga bisa balik celentang lagi. di tahun ini praktis saya hanya di Malang, beda banget sama tahuun sebelumnya di mana saya dan suami bisa ke Jakarta dan ke Tulungagung. 

3. Lebaran tahun 2014
Lebaran di tahun ketiga pernikahan, saya menjadi ibu rumah tangga yang jelas tiada lain kesibukan saya hanya mengurus dua lelaki di rumah saja. Saat itu Hyu baru bisa jalan seperti robot dan belajar ngomong satu-dua suku kata. Tahun ini berbeda lagi, karena saya mudik ke Jakarta lagi walaupun tidak ke Tulungagung karena pertimbangannya agar Hyu bisa segera bertemu dengan eyang utinya yan di Jakarta yang saat itu sedang sakit keras. 3 bulan setelah lebaran eyang uti meninggal, dan satu hal yang saya syukuri adalah Hyu sempat bertemu eyang utinya saat lebaran.. 

4. Lebaran tahun 2015
Ditahun ini adalah tahun pertama di mana saya akhirnya menetap dikampung halaman saya menempati rumah ibu dan bapak. Ibu pensiun dari profesi guru yang sudah beliau jalani selama 40 tahunan. Hyu sudah lari-lari dan banyak ngomong. Ohya, saya berprofesi sebgai guru les di rumah, setiap harinya tidak kurang 25 bocah-bocah sekolah belajar sesuai jadwal yang saya buatkan. di tahun ini saya mudik ke Tulungagung tapi nggak nginep karena Hyu nggak kerasan di tempat buyut di Tulungagung panasnya minta ampooonnn..

5. Lebaran tahun 2016
Saya baru saja resign dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata di mana saya menjabat sebagai asisten supervisor di unit rumah makan. Ya! setelah bertahan beberapa waktu pada akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran saya. Beberpa hari jelang lebaran, saat kantor sedang sibuk-sibuknya, saat gaji saya sudah keluar dan saat THR sudah cair, i'm out.. :D tapi tenang, saat itu insyaAllah semua tugas dan tanggung jawab saya di bulan sebelumnya sudah beres kok.. dan pada akhirnya bisa mudik ke Tulungagung lagi..

6. lebaran tahun 2017
Lebaran tahun ini sepertinya bakal saya lewati dengan menghabiskan masa orientasi sebagai staf keuangan di sebuah rumah sakit umum swasta di kampng halaman, di pinggiran Malang. Bagaimana dengan mudik?? entahlah..

--------


Friday, 14 April 2017

surat cinta untuk starla - virgoun

teruntuk kamu hidup dan matiku
aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya
atau dengan kalimat apa aku mengungkapkannya
karna untuk kepergian kalinya
kau buat aku kembali percaya akan kata cinta
dan benar bahwa cinta masih berkuasa diatas segalanya
ketika hati yang mudah rapuh ini
diuji oleh duniawi diuji oleh materi
untuk kesekian kali lagi lagi dan lagi

kutuliskan kenangan tentang
caraku menemukan dirimu
tentang apa yang membuatku mudah
berikan hatiku padamu

takkan habis sejuta lagu
untuk menceritakan cantikmu
kan teramat panjang puisi
tuk menyuratkan cinta ini

telah habis sudah cinta ini
tak lagi tersisa untuk dunia
karena tlah kuhabiskan
sisa cintaku hanya untukmu

aku pernah berpikir tentang
hidupku tanpa ada dirimu
dapatkah lebih indah dari
yang kujalani sampai kini

aku slalu bermimpi tentang
indah hari tua bersamamu
tetap cantik rambut panjangmu
meskipun nanti tak hitam lagi

bila habis sudah waktu ini
tak lagi berpijak pada dunia
telah aku habiskan
sisa hidupku hanya untukmu

dan tlah habis sudah cinta ini
tak lagi tersisa untuk dunia
karena tlah kuhabiskan
sisa cintaku hanya untukmu

untukmu
hidup dan matiku

bila musim berganti
sampai waktu terhenti
walau dunia membenci
ku kan tetap disini

bila habis sudah waktu ini
tak lagi berpijak pada dunia
telah aku habiskan
sisa hidupku hanya untukmu

tlah habis sudah cinta ini
tak lagi tersisa untuk dunia
karena tlah kuhabiskan
sisa cintaku hanya untukmu

karena tlah kuhabiskan
sisa cintaku hanya untukmu



Wednesday, 1 March 2017

perfect love - kotak band

tak pernah terlintas di khayalku 
takdir hidup menuntunku menemukanmu 

engkau permataku sang kekasih 
yang ku cinta bersamamu jalani hidup 
engkau adalah pemberian terindah 
dan akan ku jaga hingga nafas terakhir

you are the perfect love rains over me 
you have the perfect song singing for me 
you are the perfect dream i ever wanted 
you are the perfect love 

engkaulah cintaku yang pertama dan terakhir 
jelajahi dan ruang dan waktu 

engkau adalah pemberian terindah 
dan akan ku jaga hingga nafas terakhir

you are the perfect love rains over me 
you have the perfect song singing for me 
you are the perfect dream i ever wanted 
you are the perfect love 
i thank God for you 

you are the perfect love rains over me 
you have the perfect song singing for me 
you are the perfect dream i ever wanted 
you are the perfect dream i ever wanted 
you are the perfect dream i ever wanted 
you are the perfect love (perfect love) 
thank God for you

Saturday, 18 February 2017

berbicara tentang bapak...

Bisa jadi saya tidak pernah bercerita tantang bapak saya di blog ini. Bukan karena tidak ingin, tapi saya takut terhanyut dalam kenangannya. Hari ini setelah 14 tahun kepulangannya saya ingin bercerita agak panjang. Semoga bisa menjadi tulisan yang bisa saya publish dan tidak sekadar jadi draft yang batal saya post karena tidak kuat menahan isak.

Saat saya mulai remaja, kala itu saya masih jadi anak pintar. Tidak pernah kehilangan juara umum sewaktu SMP, kakak saya yang pertama bertanya, apakah saya ingin menjadi dokter? Saya bilang saya tidak mau.

Bapak saya meninggal saat saya kelas 5 SD karena mengidap sakit liver yang cukup parah selama kurang lebih 2 tahunan. Berkali-kali masuk rumah sakit padahal saat itu bapak saya sedang dinas di luar kota dan satu minggu sekali bapak pulang. Sewaktu bapak diopname, ibu saya dengan setia menunggui dan merawatnya. Saya yang saat itu masih kecil ditinggal di rumah emak, nenek saya. Setiap 2 hari sekali ibu pulang dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menunggui bapak sampai bapak diperbolehkan pulang dan membaik lalu bekerja lagi. Kakak saya yang pertama, mas Heri bekerja di Tangerang. Sedangkan kakak saya yang kedua, mbak Rina masih SMA dan ngekost di Kediri.

Dipikiran saya, ketika bapak pulang dari rumah sakit berarti bapak sudah sehat.  Bapak tidak akan sakit lagi. Begitu. Tetapi tidak demikian, beberapa kali bapak saya kambuh saat sedang bekerja dan harus kembali diopname. Karena sakitnya, bapak dilarang makan makanan pedas, entah dari cabai ataupun lada. Pernah satu kali bapak sedang di rumah. Bapak memang pulang setiap hari Sabtu dan berangkat lagi hari Senin pagi. Seorang tetangga jualan gorengan keliling, bapak membeli bakwan sayur di hari Minggu itu. Senin pagi bapak berangkat kerja lagi dan siangnya ibu mendapat kabar bahwa bapak harus diopname lagi. Tak lain karena bakwan sayur yang dibeli bapak ada ladanya. Saya sempat diajak ibu untuk menjenguk bapak, karena sangat rindu, sebagai anak bungsu saya memang sangat dekat dengan bapak. Apalagi jarak antara saya dan kedua kakak saya terpaut cukup jauh. 8 tahun dan 5 tahun.

Saya masih ingat betul, perut bapak saya membuncit dan keras. Tapi tidak diikuti dengan kenaikan berat badannya, bapak saya cenderung kurus, meskipun tidak kurus kering. Secara kasat mata bapak saya tidak seperti orang sakit. Bicaranya pun ringan dan renyah seperti biasa.

Beberapa minggu yang lalu ibu saya bercerita tentang  hari-hari yang dilalui ibu saat bapak sakit dan akhirnya dipanggil Allah. Ibu saya bercerita tentang opname bapak yang terakhir. Sebelum berpulang bapak saya dirawat di sebuah rumah sakit di dekat rumah. Kebetulan pemilik rumah sakit dan dokter yang menangani bapak adalah murid ibu sewaktu SD. Bapak saya sempat dirawat di sana selama 7 hari. Satu hari dokter memanggil ibu saya, dokter bilang bahwa bapak saya memang sudah parah.

Dokter menawarkan kepada ibu saya untuk mengobatkan bapak kemanapun yang diinginkan ibu saya, dokter siap mengantar dan menemani ibu saya. Dokter bilang sudah angkat tangan untuk dirawat di rumah sakit ini karena kemungkinan bapak saya bisa sembuh tidak bisa sampai 1%. Tentu bapak saya tidak tau pembicaraan tersebut. Akhirnya ibu mengambil keputusan untuk memboyong bapak pulang saja. Dokter tersebut mengantarkan sendiri bapak saya pulang dengan menggunakan mobil pribadinya tidak dengan mobil rumah sakit. Keesokan harinya hari Jumat pagi tanggal 8 Juni tahun 2001 sekitar pukul 5 pagi Allah menghendaki bapak saya untuk kembali. Khh.. tentu saja saat menceritakan ini ibu saya tidak bisa menahan isak tangisnya, meskipun sudah 14 tahun berlalu…

Sejak sepeninggal bapak saya, saya tidak pernah ingin menjadi tenaga medis, menjadi pegawai rumah sakit, merawat dan menangani orang sakit. Tidak pernah ingin sama sekali. Hanya takut. Takut menangis karena mengenang bapak saya. Takut jika menumbangkan harapan keluarga pasien terhadap tenaga medis atas pasien itu. Mungkin pikiran saya terlalu sempit. Tapi saya memang tidak ingin. Sampai saat ini pun ketika saya ke rumah sakit, entah untuk keperluan yang sekadar menjenguk teman sekalipun, selalu ada degub jantung yang berbeda di dada saya. Mungkin saya trauma? Entahlah, tapi berjalan di lorong-lorong rumah sakit selalu membawa saya untuk kilas balik ke masa kecil di mana bapak saya sedang sakit.


*tulisan ini sudah hampir 2 tahun tersimpan sebagai draft, dan hari ini akhirnya saya putuskan untuk mempublishnya dengan segenap suka duka