tak pernah terlintas di khayalku
takdir hidup menuntunku menemukanmu
engkau permataku sang kekasih
yang ku cinta bersamamu jalani hidup
engkau adalah pemberian terindah
dan akan ku jaga hingga nafas terakhir
you are the perfect love rains over me
you have the perfect song singing for me
you are the perfect dream i ever wanted
you are the perfect love
engkaulah cintaku yang pertama dan terakhir
jelajahi dan ruang dan waktu
engkau adalah pemberian terindah
dan akan ku jaga hingga nafas terakhir
you are the perfect love rains over me
you have the perfect song singing for me
you are the perfect dream i ever wanted
you are the perfect love
i thank God for you
you are the perfect love rains over me
you have the perfect song singing for me
you are the perfect dream i ever wanted
you are the perfect dream i ever wanted
you are the perfect dream i ever wanted
you are the perfect love (perfect love)
thank God for you
Wednesday, 1 March 2017
Saturday, 18 February 2017
berbicara tentang bapak...
Bisa
jadi saya tidak pernah bercerita tantang bapak saya di blog ini. Bukan karena
tidak ingin, tapi saya takut terhanyut dalam kenangannya. Hari ini setelah 14
tahun kepulangannya saya ingin bercerita agak panjang. Semoga bisa menjadi
tulisan yang bisa saya publish dan tidak sekadar jadi draft yang batal saya
post karena tidak kuat menahan isak.
Saat
saya mulai remaja, kala itu saya masih jadi anak pintar. Tidak pernah
kehilangan juara umum sewaktu SMP, kakak saya yang pertama bertanya, apakah
saya ingin menjadi dokter? Saya bilang saya tidak mau.
Bapak
saya meninggal saat saya kelas 5 SD karena mengidap sakit liver yang cukup
parah selama kurang lebih 2 tahunan. Berkali-kali masuk rumah sakit padahal saat
itu bapak saya sedang dinas di luar kota dan satu minggu sekali bapak pulang.
Sewaktu bapak diopname, ibu saya dengan setia menunggui dan merawatnya. Saya
yang saat itu masih kecil ditinggal di rumah emak, nenek saya. Setiap 2 hari
sekali ibu pulang dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menunggui bapak sampai
bapak diperbolehkan pulang dan membaik lalu bekerja lagi. Kakak saya yang
pertama, mas Heri bekerja di Tangerang. Sedangkan kakak saya yang kedua, mbak
Rina masih SMA dan ngekost di Kediri.
Dipikiran
saya, ketika bapak pulang dari rumah sakit berarti bapak sudah sehat. Bapak tidak akan sakit lagi. Begitu. Tetapi
tidak demikian, beberapa kali bapak saya kambuh saat sedang bekerja dan harus
kembali diopname. Karena sakitnya, bapak dilarang makan makanan pedas, entah
dari cabai ataupun lada. Pernah satu kali bapak sedang di rumah. Bapak memang
pulang setiap hari Sabtu dan berangkat lagi hari Senin pagi. Seorang tetangga
jualan gorengan keliling, bapak membeli bakwan sayur di hari Minggu itu. Senin
pagi bapak berangkat kerja lagi dan siangnya ibu mendapat kabar bahwa bapak
harus diopname lagi. Tak lain karena bakwan sayur yang dibeli bapak ada
ladanya. Saya sempat diajak ibu untuk menjenguk bapak, karena sangat rindu,
sebagai anak bungsu saya memang sangat dekat dengan bapak. Apalagi jarak antara
saya dan kedua kakak saya terpaut cukup jauh. 8 tahun dan 5 tahun.
Saya
masih ingat betul, perut bapak saya membuncit dan keras. Tapi tidak diikuti
dengan kenaikan berat badannya, bapak saya cenderung kurus, meskipun tidak
kurus kering. Secara kasat mata bapak saya tidak seperti orang sakit. Bicaranya
pun ringan dan renyah seperti biasa.
Beberapa
minggu yang lalu ibu saya bercerita tentang
hari-hari yang dilalui ibu saat bapak sakit dan akhirnya dipanggil Allah.
Ibu saya bercerita tentang opname bapak yang terakhir. Sebelum berpulang bapak
saya dirawat di sebuah rumah sakit di dekat rumah. Kebetulan pemilik rumah
sakit dan dokter yang menangani bapak adalah murid ibu sewaktu SD. Bapak saya
sempat dirawat di sana selama 7 hari. Satu hari dokter memanggil ibu saya,
dokter bilang bahwa bapak saya memang sudah parah.
Dokter menawarkan kepada ibu
saya untuk mengobatkan bapak kemanapun yang diinginkan ibu saya, dokter siap
mengantar dan menemani ibu saya. Dokter bilang sudah angkat tangan untuk
dirawat di rumah sakit ini karena kemungkinan bapak saya bisa sembuh tidak bisa
sampai 1%. Tentu bapak saya tidak tau pembicaraan tersebut. Akhirnya ibu
mengambil keputusan untuk memboyong bapak pulang saja. Dokter tersebut mengantarkan
sendiri bapak saya pulang dengan menggunakan mobil pribadinya tidak dengan
mobil rumah sakit. Keesokan harinya hari Jumat pagi tanggal 8 Juni tahun 2001
sekitar pukul 5 pagi Allah menghendaki bapak saya untuk kembali. Khh.. tentu
saja saat menceritakan ini ibu saya tidak bisa menahan isak tangisnya, meskipun
sudah 14 tahun berlalu…
Sejak
sepeninggal bapak saya, saya tidak pernah ingin menjadi tenaga medis, menjadi
pegawai rumah sakit, merawat dan menangani orang sakit. Tidak pernah ingin sama
sekali. Hanya takut. Takut menangis karena mengenang bapak saya. Takut jika
menumbangkan harapan keluarga pasien terhadap tenaga medis atas pasien itu.
Mungkin pikiran saya terlalu sempit. Tapi saya memang tidak ingin. Sampai saat
ini pun ketika saya ke rumah sakit, entah untuk keperluan yang sekadar
menjenguk teman sekalipun, selalu ada degub jantung yang berbeda di dada saya.
Mungkin saya trauma? Entahlah, tapi berjalan di lorong-lorong rumah sakit
selalu membawa saya untuk kilas balik ke masa kecil di mana bapak saya sedang
sakit.
*tulisan ini sudah hampir 2 tahun tersimpan sebagai draft, dan hari ini akhirnya saya putuskan untuk mempublishnya dengan segenap suka duka
Tuesday, 14 February 2017
26 tahun
*sebelumnya saya kasih desclaimer dulu, tulisan ini aslinya saya bikin di tanggal 7 November 2015 dan ngendon selama setahun lebih di draft saya, hari ini akhirnya setelah mengalahkan kesibukan yang sangat padat akhirnya saya publish juga :D
Hai, setahun cepat sekali berlalu ya. Tiba-tiba saja saya
sudah ulang tahun lagi. Semakin menua, ehehe. Sama seperti tahun-tahun
sebelumnya, tidak ada perayaan spesial. Ya biasa saja. 7 November tahun ini
jatuh pada hari Sabtu, dan ga ngerti kenapa saya suka aja kalo ada tanggal
penting dan pas banget harinya hari Sabtu. J
Suami saya yang belakangan sering begadang untuk mengurus
pekerjaan online-nya pas tengah malem ngucapin selamat ulang tahun. Lah tumben.
Jaman belum nikah dulu pernah karena saking sibuknya (atau mungkin lupa) si
bapak ngucapinnya malah jam 5 sore, hahaha. Saat itu saya ya biasa saja, ga
kecewa atau gimana karena tanggal 7 November kan ga cuma jam 12 malem. Justru
seingat saya selama 8 tahun mengenalnya, baru 2 kali suami saya mengucapkan
selamat ulang tahun tepat jam 12 malam.
Saya memang tidak pernah secara special merayakan hari-hari
penting di hidup saya. Bagi saya cukup dengan mengingat moment special di
tanggal penting itu jauh lebih berarti, hihi. Pun demikian dengan suami saya
lho ternyata. Itulah mengapa saya merasa sangat cocok dengannya, hahaha. Oya,
saya pernah sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu secara tumben-tumbenan memberikan
kado ulang tahun untuknya. Sendal jepit merk Swallow yang sedikit kekecilan
karena ukuran kaki suami saya yang aduhai sekali panjangnya. Bukan tanpa alasan
saya memberinya kado itu. Saat itu kami belum menikah dan masih berhubungan
jarak jauh pun jarang bertemu. Kebetulan pas tanggal ulang tahunnya jadwal kami
sedikit longgar dan memungkinkan untuknya datang ke Malang. Perjalanan panjang
Malang-Jakarta membuat sandalnya putus, ya padahal cumin duduk aja juga di
kereta. :p Jadilah saya membeli sandal jepit sekalian sebagai kado, kekeke.. :p
(maafkan kekacauan saya)
Tidak ada perayaan, tidak ada kado, saya pun tidak masak
makanan menu khusus. Setiap detik berlalu seperti biasa saja. Seperti hari-hari
sebelumnya. Gerah yang tak tertahankan karena musim kemarau yang terlalu
panjang dan hujan yang tak kunjung datang. Bahkan sempat penunjuk cuaca di hape
saya menunjukkan bahwa suhu di sini mencapai 34oC padahal biasanya
ya sekitar 24oC. Semacam di kota asal suami saya, Jakarta. Sinar
matahari datang tepat pada waktunya dan memanggang bumi sampai sekitar jam 2
siang lalu datang mendung tebal bergelayut di langit tapi tak juga berakhir
dengan titik-titik hujan. Terus menerus seperti itu macam siklus rutin selama
beberapa hari. Walhasil malamnya kipas angin terus berputar minimal sampai jam
2 pagi. Ya karena saking gerahnya dunia. Dan dalam hati saya pun memang
meridukannya, hujan..
Hari ini saya hanya tidak ingin ngapa-ngapain, kebetulan
semua jadwal les libur di hari Sabtu dan Minggu. Saya ingin sejenak rehat dari
rutinitas yang padat dan mendinginkan kepala karena rasanya sudah sangat panas
dan ngebul otak saya ini. Ngajar les aja capek bu? Ehehe. Emang iya kok, kadang
kita butuh istirahat juga kan? Butuh liburan, tapi minggu ini saya tidak ada
rencana untuk kemana-mana. Cukup di rumah saja.
Jam setengah 12 siang eh kok gluduk-gluduk dari langit dan
aaaaakkkk HUJAAAAAAN!! Senengnya sungguhlah saya. Kebetulan Hyu belum tidur
siang, dianya malah heboh lari dari ruang tamu ke belakang terus bolak balik
dan tiba-tiba hilang. Saya panggil berulang, dia tidak menyahut juga, lah ternyata
dia duduk di samping rumah, di dekat garasi, di atas kursi rotan peninggalan
bapak saya. Di sana memang hujan bisa dilihat dengan jelas. Hyu menyukai hujan
seperti saya dan suami. Dia sampai ga mau beranjak dari kursi itu. Lah kan
capek juga ngliatin hujan mulu..
Tuhan memang selalu maha baik. Hujan, kado yang sungguh
membahagiakan di ulang tahun ke-26 saya.
Alhamdulillahirobbilalamiin..
Thursday, 19 January 2017
Berita bahagia dari seorang kawan lama,,
Dulu sekitar 6-8 tahun yang lalu
kita begitu intens bercengkerama, berkutat dengan hal yang sama, bercerita
tentang keluh kesah yang sama.. tentang Jas Lab dan tumpukan-tumpukan kertas
laporan praktikum yang menjadi tanggungan tiap minggunya..
Setelah lulus dan memilih jalan
masing-masing, interaksi kita menjadi berkurang.. saat kamu akhirnya mendapat
beasiswa S2 percepatan dan saya menikah lalu mempunyai keturunan..
Kemudian komunikasi kita semakin
jauh berkurang saat saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman sedang
kamu masih tetap di kota kelahiran dan menjadi staf sebuah pabrik..
Kadang kita masih saling menghubungi sekadar untuk menyapa dan memberitakan hal-hal penting, kadang pula masih berjumpa di sebuah undangan pernikahan salah satu kawan kita semasa kuliah.. undangan pernikahan memang pada akhirnya menjadi ladang untuk reuni kawan lama, meskipun tak jarang juga saya terpaksa tak bisa hadir mengingat jarak dan waktu yang tidak saya punya..
Terakhir perjumpaan kita mungkin
sekitar 2 tahun yang lalu di pernikahan kawan kita di Kediri, sepulang dari
sana seingat saya kamu sempat mampir ke rumah saya namun sayangnya saya harus
mengajar les saat itu..
Beberapa
bulan yang lalu kita juga sempat chit-chat tentang cerita saya yang akhirnya
memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang begitu menyita waktu dan pikiran saya..
sedangkan kamu bercerita tentang ketidaknyamananmu di kantor dan keinginan
untuk resign.. juga tentang kegalauanmu mengenai jodoh yang tak kunjung dipertemukan
denganmu..
Sebagai seorang kawan, saya hanya
bisa mendengar ceritamu dan mendoakan yang terbaik bagimu.. saat itu saya
pernah bercanda “mungkin saja jodoh kamu itu orang sekantor yang secara
diam-diam menyukai kamu, atau bisa juga orang yang secara tidak sengaja setiap
hari menumpangi bis yang sama saat berangkat atau pulang bekerja”
Waktu bergulir, hari ini kita
kembali saling menyapa yang juga karena undangan pernikahan.. seperti biasa
saya menanyakan tentang pekerjaan kamu, jujur saja untuk urusan jodoh dan
percintaan saya tidak ingin menanyakan dan lebih memilih untuk membiarkan agar
kamu yang lebih dahulu bercerita, mengingat diusia kita yang sudah di atas 25
tahun itu adalah hal yang sensitif ditambah lagi saya sudah punya momongan..
Kamu bercerita, kamu sudah resign
dari kantor lama sekitar 1-2 bulan yang lalu.. kamu kini bukan lagi staf
pabrik, tapi dosen di sebuah kampus negeri, saya senang.. tentu saja, karena
ilmu S2 kamu bisa dibagi ke banyak orang, terlebih dari itu saya melihat kamu
nyaman bekerja di sana.. katamu, kamu apply sudah hampir 2 tahun, dan saat kamu
makin merasa tak nyaman di kantor lama kamu mendapat tawaran kerja sebagai
dosen di tempat yang jaraknya lebih dekat dari rumah daripada kantor lama..
Kamu masih lanjut bercerita,
disaat terakhir kamu bekerja di kantor lama, kamu dekat dengan seorang teman
kantor yang sering mengantar pulang kerja, ah saya sungguh senang.. saya baca berulang-ulang
chat dari kamu di sela kesibukan saya mengurus anak dan mengajar les.. meskipun
tak bertatap muka saya tahu kamu sangat bahagia, demikianpun dengan saya..
Kamu memang bukan satu-satunya
kawan baik saya, tapi kamu adalah salah satu kawan terbaik saya.. saya selalu
ikut bahagia mendapati kawan-kawan saya bahagia, semoga kebahagiaan selalu
menyertai hari-hari kita, dan Allah Azza Wa Jalla mengabulkan apa-apa yang kita
mohonkan di waktu yang tepat..
| Gedung Graha Sainta, 21 April 2012 |
Subscribe to:
Posts (Atom)